Friday, January 27
Tentang Rendi (#1)
Aku menoleh ke arah hapeku ketika benda kecil itu berbunyi. Dari nadanya tertebak siapa yang mengirim SMS. Pasti cewek yang mengaku cantik yang kukenal dari chatting. Padahal waktu itu aku hanya iseng melanjutkan hobi teman sekantorku di saat kapanpun dia memegang komputer. Dan salah satu teman ngobrolnya sedikit menggodaku karena sepertinya cewek ini mempunyai percaya diri yang cukup tinggi. Dan begitu kulihat foto yang ditujukan ke temanku melalui e-mail dan katanya adalah dirinya itu, aku jadi mengerti mengapa dia bersikap seperti itu. Cantik memang, nyaris tanpa cacat. Tapi sayangnya bukan tipeku. Yah, untuk "secelup dua celup" mungkin bisalah, begitu kata temanku itu sambil nyengir.

Dan hampir dua minggu aku ber-SMS dengan Rein, nama cewek yang katanya cantik ini. Dan ... seperti itu-itu sajalah isi SMS-nya. Sedikit rayuan gombal, sedikit perhatian ekstra, sedikit memamerkan apa yang aku punya tapi tetap dengan segala kerendahan hatiku. Cewek mana yang nggak suka hal seperti itu?

SMS kali ini berisi ajakan untuk bertemu di akhir minggu. Sebenarnya sih sudah sejak awal-awal perkenalan kami, ia tak sabar untuk menemuiku. Apalagi setelah dia mengetahui dimana aku bekerja, jabatanku di kantor, rumah yang kutinggali milik siapa, bahkan dia pun bertanya jenis mobil dan hape yang kupakai. Dari situ saja aku bisa menebak tipe cewek macam apa dirinya. Namun ku tak ambil pusing. Mungkin bisa melakukan "secelup dua celup" seperti kata temanku. Aku hanya meringis geli jika ingat hal itu.

Tiba-tiba hapeku berdering panjang, kali ini memang ada telpon masuk. Si Cantik yang menelponku.

"Ya?"
"Kok SMS-nya nggak dijawab?" tanyanya manja.

Duh, Tuhan! Untung aku nggak suka cewek ini. Jadi nggak harus repot mengurusi salah tingkahku.

"Sebentar, sabar dong. Jariku kan nggak secepat kamu."

Di seberang malah terdengar suara tawa cekikikan. Aku bingung, mencari-cari bagian mana yang lucu dari kalimat yang barusan aku ucapkan. Dan tahu-tahu telpon sudah ditutup.
Daripada harus pusing memikirkan hal yang mebuatku pusing tanpa tujuan akhirnya kuputuskan untuk mengiyakan ajakannya. Habis ketemu, sebaiknya kuhibahkan dia pada temanku si tukang celup itu!

***

Dan aku terpana untuk kedua kalinya. Yang pertama sewaktu bertemu dengannya di kedai kopi itu. Dandanannya yang serba kacau dan sikap cuek dan judesnya membuatku semakin penasaran pada cewek ini, Zoe. Dan aku sudah memberikan panggilan khusus untuknya.Walaupun kulitnya sedikit cokelat tetapi kelihatan sehat dan bersih. Rambutnya sebenarnya juga bagus kalau tidak digelung asal dengan benda yang kutebak pasti sumpit itu. Contohnya kali ini. Rambutnya yang sedikit melebihi bahu itu digerai begitu saja walaupun sedikit berantakan belum disisir. Kostumnya sama berantakannya dengan terakhir aku melihatnya. Kaos oblong setengah lusuh yang menutupi hampir sampai dengkul. Aku sedikit penasaran apa dia pakai celana pendek atau tidak.

"Dari mana tahu alamatku?" tanyanya galak tanpa mempersilahkan aku masuk, bahkan aku masih di luar pagar.

Dia melirik ke arah mobilku. Apa mungkin dia juga menilai apa yang aku naiki?

"Mana Rein?" tanyanya lagi, masih galak.
"Nggak tahu. Di rumahnya kali."
"Kamu belum jawab saya!"
"Yang mana?" tanyaku balik dengan blo'onnya.

Kelihatan sekali kalau dia penasaran tapi terlalu gengsi untuk merengek-rengek lebih lanjut demi mendapatkan jawaban dari rasa penasarannya. Aku juga tak ingin menyerah begitu saja. Akan kuikuti cara bermainnya.

"Kamu nggak menyuruh aku masuk?" tanyaku menggoda, pasti bikin dia jengkel.
"Jawab dulu dari mana!" Zoe mulai pasang aksi.

Mungkin dia pikir dia di atas angin sekarang. Dia pikir aku akan mengalah agar bisa masuk ke rumahnya.

"Kalau tak kuberitahu?"
"Mau masuk nggak?" tantangnya.
Aku terdiam sebentar. Menghembuskan nafas, pura-pura berpikir. "Ya sudah kalau nggak boleh. Selamat sore."

Aku pun berjalan menuju mobilku. Berspekulasi dia akan memanggilku. Tapi teriakan menghentikan gerakanku tidak kudengar sama sekali bahkan sampai aku masuk mobil. Ketika kutengok anak itu, dia tidak ada lagi di luar. Sial!!

***

Kali ini dia yang terpana melihatku. Bukan karena kagum tapi karena kaget melihatku bisa ada di tempat ia bekerja part time. Dan aku hanya pasang senyum melihat wajahnya memerah.

"Kamu!" Zoe sedikit berteriak dan langsung berdiri. Tapi meja tempat ia makan bersama teman-temannya tesenggol sedemikian rupa sehingga menumpahkan makan siangnya dan semua minuman yang ada di atasnya.

"Aduh, sori ... sori ...," dan dia tersibukkan dengan itu sementara aku beringsut mendekatinya.

"Udah. Nggak papa kok, Zoe. Temuin tamu elo dulu tuh," ujar temannya sambil melihat padaku sedikit bertanya-tanya.

Seperti teringatkan Zoe kembali memelototiku. Terasa sekali getaran tubuhnya yang menahan amarah itu.

"Ngapain kamu ke sini?" desisnya perlahan. Membuat teman-temannya pergi menjauh.
Aku menunggu mereka menghilang baru menjawab pertanyaannya. "Makan siang, yuk."
"Ngapain kamu ke sini??" sepertinya dia benar-benar marah sekarang.
"Kamu nggak ngijinin aku masuk rumah kamu kemarin, jadi mungkin saja di sini kamu ... ,"

Dia memotongku sambil mengangkat tangannya. Sedetik kemudian malah menutupi mukanya sebentar. Lalu memandangku dengan banyak macam ekspresi. Bibirnya hendak mengatakan sesuatu tapi mungkin dia lebih membingungkan gejolak yang ada di dalam dirinya. Dan aku suka dengan mimiknya yang sekarang. Rasanya ingin sekali menenangkan hatinya. Tapi aku memilih diam dan menikmati kecantikannya yang sedang luar biasa ini.

"Makan yuk," ajakku sekali lagi.
Dia diam sebentar. "Udah nggak mood. Lagian jam istirahat kan udah selesai setengah jam yang lalu!! Kamu nggak kerja?!"

Aku hanya tersenyum. Rupanya teman cantiknya tidak begitu memberitahu siapa diriku. Atau disimpan hanya untuk dirinya? Kalau saja dia tahu aku bisa seliweran keluar masuk kantor semau udelku dia mungkin saja sedikit kagum padaku. Tapi apa iya, ya?

"Benar kamu nggak lapar? Tadi sepertinya tumpah semua."

Dia diam tapi kemudian berdiri dan berjalan menuju pintu keluar. Jangan-jangan mau mengusirku.

"Ayo! Jangan diem aja! Aku banyak kerjaan!" sentaknya melihat aku diam tak bergeming.
Dan aku tersenyum. Lebar sekali ...

***

"Eeh... Mbak Ama. Kok baru dateng jam segini, Mbak?"

Dan dia membawaku ke warung sederhana di sebelah kantornya. Sepertinya ibu pemilik tempat makan ini kelihatan akrab sekali dengannya. Dan yang membuatku kaget adalah senyum yang begitu manis dan indahnya, terpasang di bibir gadis ini yang tak pernah kulihat sejak pertama kali aku mengenalnya.

"Hey, kamu mau makan apa?" Zoe mengagetkan aku.
"Oh, kamu aja duluan," jawabku sedikit gelagepan.
Dia malah menggeleng.
"Lho? Terus? Ngapain kita ke sini?"
"Kan kamu yang mau makan siang."
"Kamu?"
"Udah nggak mood! Cepetan tuh ibunya nungguin!"

Dan aku menurutinya. Bah! Tumben-tumbenan aku seperti ini. Sepertinya keadaanku sudah gawat ...

"Mbak Ama nggak makan?" tanya ibu ramah itu di sela-sela melayaniku.
Gadis itu tersenyum lagi. Sialnya tidak pernah sekalipun ditujukan padaku. "Nggak, Bu!" lalu melihatku tajam. "Lagi eneg!"
"Waaah, udah kayak hamil muda aja pake eneg segala." Tiba-tiba ibu itu bergantian melihatku dan Zoe atau si Ama itu sambil senyum-senyum. "Apa jangan-jangan emang iya?"

Aku hanya tersenyum tipis tak mengiyakan sementara Zoe hanya kebingungan. Namun sebentar kemudian dia malah melotot ke arahku tapi tak membantah pernyataan si ibu.

"Waaah, ibu mau punya cucu dong kalau begitu," si ibu tambah semangat melayaniku dan akhirnya memberikan pesananku ditambah dengan senyuman yang lebar sekali.
"Ibu ah becanda aja! Kawin aja belum, mana bisa hamil?" akhirnya Zoe menyanggah juga sambil menunjuk meja yang ingin ditempatinya. Dan aku menurutinya sekali lagi.
"Tapi calonnya udah ada to, Mbak?" tanya si ibu sambil melirik ke arahku.
"Maunya sih begitu, Bu," sahutku nggak tahan lagi demi melihat muka masam milik Zoe. Dan benar dugaanku.
Setidaknya aku bahagia hari ini.


Tentang Rein (#1)
Dan aku mencintainya. Setelah dua bulan aku bertemu muka dengannya, aku mulai menyadari perasaanku padanya. Kalau Zoe kuberitahu tentang hal ini pasti dia akan tertawa sekeras-kerasnya dan berkata ini hanya alasanku saja untuk tetap berada di samping lelaki itu sembari menikmati segala materi yang ia miliki. Sebelum bertemu dengan Rendi, ya ... mungkin aku memang seperti dugaan Zoe dan aku tak menyangkalnya. Namun, entah perasaan apa yang menyelimutiku akhir-akhir ini. Aku berusaha lumayan keras untuk melawannya. Untuk bersikap seperti adanya aku dalam menjerat setiap lelaki yang tertarik padaku, tidak peduli dengan cibiran orang yang mengenalku hanya sebatas itu karena aku memang dapat menikmatinya tanpa harus susah payah mengeluarkan yang aku punya. Dengan sedikit sentuhan dan ciuman, semua akan mengalir untukku.
Tapi Rendi ... sungguh mati sekarang aku tak bisa setega biasanya. Melihat awajahnya, memangdang matanya, senyumnya yang terukir indah di bibir titpisnya ... kuakui telah melunturkan segala sikap wajarku selama ini.
"I love you ...," bisikku sambil menyisir rambutku, duduk di depan meja rias. Memperhatikan setiap lekuk wajahku.
Lihat...
Kuusap pelan pipi putihku. Ekspresikupun secara natural selalu menampilkan senyum indah yang terkadang pura-pura kupasang untuk menyenangkan orang. Dan kali ini aku bersungguh-sungguh.
Apakah dia menyukaiku?
Mana ada yang menolakku? Sampai detik ini, belum. Dan aku meragukan kalau Rendi menyimpan perasaan yang sama denganku. Dia...terlalu misterius. Semua yang ada padanya baik adanya. Entah itu baik kaerna memang pada dasarnya dia baik atau baik karena dia teretarik padaku. Kali ini aku sama sekali buta membaca tanda-tanda. Atau aku terbutakan karena ... jatuh cinta? Oh ... mi ... God ... Rein jatuh cinta! Kiamatlah dunia!

***

"Hei!" tiba-tiba aku tersenyum mendengar suaranya. "Lagi ngapain?"
"Mmm...it's still working hour... kalau saya gag salah?" sahutnya memastikan.
Aku tertawa kecil menutupi degub jantungku yang kian mengeras.
"Ada apa?" tanyanya setelah aku terdiam agak lama.
"Ehm... gag ada apa-apa, sih. Pengen nelpon aja. Maaf ya kalo saya ganggu...,"
Dia tertawa pelan."It's ok. Tapi saya lagi ketemu sama klien".
Dan kau mengangkat telponku di saat penting seperti itu? Apakah salah jika aku berpikir aku menjadi lebih penting dalam hidupmu? Aku menggigit bibirku tanpa sadar. "Maaf..."
"Gag apa-apa, Rein. Tapi gag bisa lama-lama ya..."
"Iya..."
Dan sepuluh detik pulsa terbuang percuma setelah itu.
"Ren..."
"Ya?"
Aku diam lagi. Stupid!
"Mau ketemu?"
Sangat! sahut hatiku cepat dengan gembira ria. Tapi aku tak tahu apa dia juga ingin bertemu denganku. "Kamu ... mau?"
Rendi terdiam sebentar. "Aku kabarin setelah rapat ya?"
Dengan sedikit kecewa aku mengiyakan apa katanya. "Bye...?"
"Bye". Dan kututup telponku.

[dB] @ 7:52 AM [ ]
SAY "YES" to ASI
Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia
join the forum

profile:
dibbie soedibyo
graphic and web designer
full time mother
fall in love with my son...

my page:
frenster
portfolio

dykta's page:
gallery
video
Friday, January 6
....
"aku taruhan pasti papa gag sampe 5 tahun lagi umurnya..."

"... makanya kamu nanti kan yang tanggung jawab sama semua urusan papa..."

"... iah kalo aku bisa pulang tiap tahun ... kan aku juga gag kaya..."

"... kamu udah umur berapa sekarang? kudu mikir serius apa gag ... kudu diomongin..."

maunya bikin planing ngatur hidup biar lebih baek, biar lebih sabar ngurus rumah ... malah kepikiran yang aneh2 ... itu hanya sekelumid kalimad yang dia ucapkan sembari tak menyadari bahwa saya tak mengerti maksud dari semua yang dia lontarkan dengan indah dan cepadnya ...

aku membayangkan surga ada di depanku depan mataku
saat aku menikmati teduhnya wajahmu indah hatimu
tak jemu-jemu ku pandang begitu elok kau tercipta

tak pernah henti-hentinya aku terus mencintai dirimu
tak pernah henti-hentinya aku tetap menyayangi dirimu
seperti adanya diriku seperti adanya aku ini
seperti adanya diriku seperti adanya

aku ingin melupakan hasrat tuk melangkah sejenak pergi
inginku sempurnakan hidupku disampingmu memeluk jiwamu
tak jemu-jemu ku pandang begitu elok kau tercipta


elok - padi

[dB] @ 9:28 AM [ ]
SAY "YES" to ASI
Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia
join the forum

profile:
dibbie soedibyo
graphic and web designer
full time mother
fall in love with my son...

my page:
frenster
portfolio

dykta's page:
gallery
video