Monday, December 26
... And I say ...

TENTANG ZOE (#1)
Aku memandang Rein tak bergeming. Rokokku pun tak kuhisap untuk barang sekian detik. Sekali lagi aku memantapkan permintaannya lewat pandangan tepat ke mata indahnya itu. Tapi mimik memelas yang terpasang pada wajah cantik hampir tanpa cacat tetap tak berubah.
"Maksudnya?" aku bertanya sekali lagi.
"Ya, begitu...” pintanya dengan merengek.
Aku paling sebal kalau dia sudah begitu. Geliatnya manja, suaranya bikin gemas. Aku saja nggak tahan mendengarnya apalagi kaum Adam yang paling suka hal seperti ini. Baru satu geliatan saja mungkin langsung mengiyakan apapun yang ia minta, walau akhirnya akan mengumpat diam-diam setelah menyadari bahwa yang dia inginkan melampaui batas kemampuan Sang Adam.
"Kenapa nggak kamu sendiri yang menemui laki-laki itu?" tanyaku agak sinis, sambil akhirnya menghisap rokokku yang hampir separuh terbakar percuma.
"Ah… Zoe!" rengeknya lagi. Aku semakin sebal. "Biar kamu aja yang nilai dia."
Dalam hati, sekarang, aku yang mengumpat. Aku sudah tahu tabiatnya. Dia menyodorkanku pada mangsanya kali ini. Dia akan menilai dari jauh. Kalau target itu sesuai harapannya, dia akan melihat respon target itu padaku. Kalau denganku saja tak bermasalah alias biasa saja atau malah tak tertarik, maka dengan dirinya lebih tak bermasalah lagi dan tentunya dia akan datang sebagai penyegar. Tapi kalau ia tak menginginkan sang target, aku boleh berlama-lama dengan orang itu dan bahkan Rein bisa meninggalkanku diam-diam.
Dari dulu, selalu seperti itu. Walau dia tak mengatakan secara langsung tapi aku tahu, dia ingin bilang kalau dia berfisik lebih sempurna dibanding aku. Alis yang dibentuk rapi, mata indah menggoda, bibir penuh serasa ingin dikecup, kulit putih terawat, badan ramping kencang tak berlemak, rambut bagai tiara berwarna hitam legam dan semua pria tak akan menolaknya! Ah, kepalaku jadi pusing dan aku jadi tambah kesal.
"Ya, Zoe, ya?"
Aku masih diam lalu tak sengaja menatap sekilas pada cermin yang tak jauh dari sisi tempat tidurku yang memantulkan bayangan kami berdua. Kulihat bayanganku. Jelek! Dan bayangan perempuan di sebelahku… ya, Tuhan … kalau aku laki-laki sudah kulumat habis dirinya! Ah, tapi aku nggak suka perempuan yang tak terlalu pintar!
"Zoe! Jangan diem aja! Janjinya besok, nih!"
"Iya! Iya!" Aku mengumpat lebih keras dalam hati, tapi dia tersenyum lebih lebar menanti kemenangannya besok.
***
Rein sialan! Cowok itu juga sialan. Kafe yang mereka pilih sepertinya tidak cocok untukku. Lihat saja orang-orang yang datang berdandan rapi dan berani bayar mahal hanya untuk sekedar minum secangkir kecil kopi.
Dengan cueknya aku memilih duduk di sofa berwarna coklat tanah di pojokan dan Rein mengawasiku dari pojokan lain. Tak sedikit cewek-cewek di situ memandangiku dari ujung ke ujung. Rambutku kugelung dengan sumpit bertulisan Cina, yang mungkin saja berarti ‘selamat makan’ kalau terbaca oleh mereka. Kaos ketatku yang sudah tak ketat lagi alias melar dimana-mana. Celana tiga perempatku yang belum kucuci berhari-hari dan lengkap dengan sandal jepit belepotan lumpur akibat cuaca hujan yang ahir-akhir ini rajin datang. Yang kupenuhi dari Rein hanya satu, bajuku harus berwarna merah. I hate this color! Ah, paling-paling juga dia senang melihat dandananku yang tak bisa melebihinya.
Kuseruput kopi yang Rein pesankan untukku namun jauh lebih nikmat rasa kopi buatan Bu Lastri, langganan di kantin kampusku. Dasar brand sialan! Nguras duit orang doang! Dari pojokan lain, Rein celingukan gelisah ke arahku. Aku cuek pura-pura nggak melihatnya dan mulai menyalakan rokokku. Dalam hati aku merenung, ngapain juga aku mengiyakan permintaan cewek yang gila dikagumi oleh pria-pria yang tak akan mau mengagumiku. Memandang sebelah mata saja mungkin tak sudi. Dan ngapain juga aku masih berteman dengannya yang jelas-jelas nggak memberi keuntungan sedikitpun untukku.
Kuliah jelas-jelas aku menang dari dia. Sekarang aku hampir menyelesaikan semua mata kuliahku, dia masih berkutat dengan anak-anak tahun kedua. Apa sengaja? Karena presentasi cowok di jurusanku memang 95% lebih banyak? Hmmm, aku meringis nggak sengaja. Pokoknya selain urusan fisik aku jauh lebih unggul kemana-mana dari Rein binti Mudjalil itu. Mungkin perasaan aku bisa menghinanya dalam hati itu yang membuat aku bertahan dan membiarkan dia di sampingku.
Tapi kenapa, ya? Hal fisik itu yang selalu menggeserku dari pandangan para opposite sex. Dulu, aku pernah cinta mati dengan seorang cowok, yang kupikir dia berbeda dari lainnya karena lebih memilihku ketimbang Rein. Tapi ternyata, ketahuan juga kalau dia mendua dan tidur dengan temanku itu. Makanya aku benci sama cowok-cowok jahanam yang kadang-kadang hanya melihat bungkusnya dari pada isinya! Pengen jadi lesbi, tapi kebanyakan dari mereka berwajah cantik-cantik juga. Jadinya ya sama saja!
"Rein?"
Aku sedikit kaget, hampir menyenggol cangkir kopiku. Aku menoleh "… eh …"
Cowok itu tersenyum dan sepertinya aku menyukainya. Oh, my God! Why do you send someone my type?
"Rendi."
Kuterima saja uluran tangannya. What a hand…rasanya aku nggak ingin melepasnya. Hatiku terasa sesak. Rein pasti jingkrak-jingkrak. Aku melirik sekilas ke arah temanku itu, dan benar saja! Wajahnya terlalu kentara sekali.
"Boleh duduk?"
Aku mengangguk asal, mencoba tak menyukainya. Dan akan bisa. Seperti biasanya. Sudah kebiasaan tepatnya.
"Rein..."
"Pertama..." kupotong dia sambil menghisap rokokku. Telingaku mulai gatal mendengar nama itu. "...gue bukan dia. Gue temennya, Rein lagi ada urusan sebentar. Nanti juga dia dateng."
Si Rendi ini menaikkan sebelah alisnya, sedikit bingung. God damn it!! Kamu pasti sederetan laki-laki jahanam juga! Aku berusaha menenangkan hatiku.
"So, gue nemenin elo sampai dia dateng."
Rendi masih diam.
"Ngerti, kan?"
Senyum menggodanya datang lagi. "Nggak masalah. Rein atau bukan yang penting saya nggak mati malu sendirian di sini."
"Malu?"
Dia tertawa kecil. "Ya, malu sedikit mungkin. Berjam-jam nungguin, celingukan, bengong, celingukan lagi!"
Aku hanya tersenyum kecut.
"Jadi namamu siapa?"
Aku bengong. Sumpah! Ini pertama kali "mangsa" Rein menanyakan namaku.“Hah?"
"Hah? Nama yang unik. Hah siapa?"
"Hah?" Aku semakin menganga.
Rendi akhirnya tertawa. "Girl, you must have a name!"
Aku gelagepan.Ternyata kebiasaanku buat cuek tidak berlaku untuk kali ini. "Zoe."
"Zoe...better than Hah tadi. Actually, it’s a nice name."
Good! Sekarang dia pamer dan merayuku dengan bahasa Inggris. Merayu? Please, deh! Wake up, girl! Melihat diriku saja mungkin dia terpaksa.
"Kuliah?"
Aku mengangguk. Tumben! Udah lama rasanya nggak diinterogasi seperti ini dengan kaum Adam. Kecuali sama saudara-saudara sewaktu acara kumpul-kumpul tahunan. Padahal tiap tahun mereka menanyakan hal yang sama.
"Dimana?"
"Di...situlah!" aku jadi jengah sendiri. Jangan-jangan aku diangkat sekarang nanti ternyata diinjak-injak…
"Lha, di situ banyak. Hmm, swasta atau negeri?"
"Swasta."
"Dimana?" dia mengejarku dan aku memilih diam.
"Ok, I’ll take it as a full answer." Rendi masih dengan senyumnya yang melekat di bibir kayak perangko. "Kamu temen apanya Rein?"
Ah, ya tentu! Rein kan pokok permasalahannya sekarang! Batinku mulai kesal mendengar nama itu disebut-sebut lagi. Basa basi, tentu saja!! Dan aku tak sadar terdiam.
"Temen kuliah?"
Aku mengangguk malas-malasan.
"Maaf, ya!" akhirnya suara manja, yang tak kuinginkan kehadirannya, muncul juga.
Seperti yang lainnya, Si Rendi ini menatap Rein tak berkedip. Lalu berkenalan, duduk berdampingan, berbasa-basi, cekikikan – Rein tentunya. Kadang mereka menanyaiku, tapi lebih banyak mendiamkanku. Dan aku sudah terbiasa dengan situasi seperti itu. Membiarkan temanku itu menikmatinya sendiri dan menang atasku lagi. Ya, ya, ya … aku semakin asik menghisap rokok yang entah sudah batang keberapa. Tiba-tiba Rein menyenggol tanganku, membuatku kaget.
"Ditanyain itu, lho!" sedikit merengut gadis itu.
"Apa?"
"Kamu selalu seperti ini?" Tanya Rendi.
"Maksudnya?" aku tak mengerti.
Dia hanya menatapku lalu tersenyum. Apa sih?? Aku semakin tak mengerti dan Rein semakin merengut. Lha?
"Aku ke toilet dulu!" tiba-tiba Rein pamit dengan agak gusar dan sedikit menendang kakiku sewaktu melewatiku. Alamak! Sengaja…?
Setelah Rein menghilang masuk ke kamar kecil, Rendi tertawa geli.
"Ada apa, sih???" akhirnya aku tak tahan lagi.
Rendi menggeleng lalu mengeluarkan hapenya. Nice type from Nokia. Tipe 9 sekian. Rein pasti tambah suka. Lalu dia bertanya, "Belum tahu nomerku, kan?"
"Rein? Udah kayaknya."
"Bukan. Kamu."
Aku terbelalak. Urusan apa aku perlu nomernya??
"Nomermu?" tanyanya membuatku tambah terbelalak.
"A.. aku??"
"Ayolah! Aku miscall kamu sekarang, deh! Biar gampang nyimpennya." Ia tak menghiraukan reaksiku.
Ragu-ragu kubacakan deretan angka padanya. Ah, bodohnya! Paling-paling juga bagian dari basa basinya. Tapi hapeku berdering dua kali setelah itu, dan dia sepertinya menekan-nekan tombol untuk menyimpan nomerku. "Ok, saved." Ujarnya meyakinkanku. So what gitu, lho?? Tapi sepertinya dia berhasil membuatku sedikit senang…
Rein datang dan melewatiku lagi dan menendang kakiku lagi, membuat Rendi tertawa kecil lagi. Kali ini temanku merapatkan duduknya dengan Rendi. Dia kira aku bakal iri melihatnya. Apalagi dia mulai memainkan hape "mangsa"nya itu. Kali ini aku yang tertawa. Kalau bisa aku ingin menjauhinya...malu!
Untuk beberapa saat aku tercuekkan dan sampai akhirnya Rendi menawarkan diri untuk mengantarkan Rein pulang yang tentunya disambut dengan gembira oleh temanku. Tanpa menghiraukan adanya aku di situ, Rein juga langsung menggandeng Rendi keluar dari kafe dan lelaki itu sepertinya juga tidak ada niat mengajakku untuk pulang bareng. Setelah mereka berdua menghilang dari hadapanku, aku segera menghapus miscall number yang barusan dan memanggil taksi untuk pulang.
***
Lagu Doraemon sayup-sayup terdengar. Dalam mimpi aku sedang mencoba mematikan weker tapi tak tahu dari mana sumber bunyi berasal. Lama kelamaan aku tersadar kalau ternyata itu dering hapeku. Aku bangun tersentak sambil meraih cepat benda kecil itu dan langsung menjawab dengan suara khas bangun tidurku.
"Halooohh..."
"Hello, Sleeping Beauty," sapa dari seberang sok akrab.
"Sapa, neh?" aku meletakkan kepalaku di bantal lagi.
Suara tawa kecil terdengar. "Kamu nggak nyimpen nomer saya?"
Mataku langsung melek. Hanya satu orang yang aku kenal yang berbicara seperti ini dan sepertinya dia masih menyimpan nomerku.
"Zo?"
Zo ... indah sekali kedengarannya. Tapi tembokku tak runtuh semudah itu.
"Masih di situ? Atau ngiler lagi?"
Mau tak mau aku tersenyum dan tak sadar menyentuh sudut bibirku. Sedikit basah. "… masih..."
"Kampus kamu lagi libur, kan?"
Pertanyaannya tambah membuatku sadar. "Libur? Siapa bilang?"
"Rein, sih."
Ya! Siapalagi?! Kemana anak itu? Sejak bertemu Si Rendi ini jarang menggandoliku kemana-mana dengan seabreg cerita pengalamannya dengan para pria.
"Tapi UAS udah selesai kan?"
"Ya, ya, ya ..."
"Kamu bener-bener masih ngantuk, ya? Saya ganggu?"
Aku melihat jam dinding. 6:42 pagi. Baru dua jam aku tidur. Tapi bukan itu yang bikin aku malas-malasan menjawab.
"Banyak tugas?"
"Mau kamu apa sih?" sepertinya nadaku galak.
Rendi tertawa lagi. "Missy, ada apa, sih? Apa kamu selalu seperti ini?"
"Apa?" aku tambah galak.
"Defensive! Introvert! Galak! Judes! Mau lagi?"
Aku tambah tersinggung. Kali ini posisiku sudah terduduk. "Maaf, saya bukan Rein!!"
Dia malah tertawa. "Nah, makanya! Tapi bukan berarti bisa galak tanpa alasan, kan?"
"Do you mind?!" emang elo doang yang bisa bahasa Inggris?! Dengusku dalam hati.
"No, I don’t. It’s ok if you hate me. But not without no reason." Suara Rendi pelan tapi tegas.
Aaah! Aku memukul pelan bantalku. Kalau dia temanku sudah kuputus dari tadi komunikasi nggak jelas ini! Lho? Harusnya kututup saja karena memang dia bukan temanku! Buat apa coba meladeni orang seperti ini, pagi-pagi?? Tapi …
"Zo?"
"Zoe! Bukan Zo!" aku malah kehabisan kata-kata. Padahal aku senang dengan panggilan baruku itu.
"Do you always like this?" dia bertanya sekali lagi.
Aku terdiam. Biarin aja jalan terus tuh pulsa! Biar bayar mahal sekalian!
"Atau hanya karena Rein?"
Aku semakin terdiam. Dan semakin sebal karena ia menebak dengan telak.
"Maumu apa?" aku bertanya lebih lembut.
"Kita ketemu, ya?"
"APA??"
"Serius, nggak becanda. Nanti sore."
"Aku belum tidur!!!"
"Ya, tidurlah. Aku jemput kamu di rumah."
"Hey! Rumahku dimana??" Aku terlonjak dari tempat tidur.
Dia menutup telponnya.
***
[dB] @ 4:53 PM [
]
